Rintik di musim Hujan
Dulu aku sangat mencintai seorang lelaki yang sangat tampan dan kaya. Hari — hari ku lalui sangat menyenangkan dan tak ada sedetikpun terlewatkan tanpa suka dan tawa. Rasanya kebahagian tersebut sungguh tak bisa tergambarkan. Hingga pada suatu hari kebahagian tersebut semakin lengkap karena lelaki pujaanku tersebut meminang ku dan menikahiku.
Lelaki yang sangat aku cintai ini kini duduk tegak berjabat erat bersama penghulu mengucap janji suci pernikahan. Setelah kami sah, semua keluarga dari kedua keluarga besar begitu bahagia. Waktu itu dunia seakan ikut bahagia bersama kami. Kebahagian kami berlipat ganda ketika dokter berkata bahwa aku hamil 3 bulan setelah lima bulan menikah bersamanya. Hari hari aku lalui dengan sangat bahagia , bahkan aku semakin manja kepada suamiku. Selayaknya ibu ibu yang sedang hamil muda, rasa sensitif ku semakin berlipat ganda. Aku semakin manja kepadanya , aku semakin tak mau jauh jauh darinya , dan semakin cemburu pula rasanya bila sejam saja dia tak mengabari kabarnya,
Hingga pada suatu hari , aku ingin sekali makan mangga muda. Karena aku sedang ngidam waktu. Aku menelpon suami ku agar cepat pulang dan membawa mangga keiinginanku. Padahal baru 3 jam dia berangkat ke kantornya. Dengan penuh rasa sayang suamiku mengiyakan permintaan ku.
Sejam berlalu suamiku belum juga tiba, dan berulang kali kucoba menghubungi tapi tak ada jawaban. Jam jam berikutnya ku lalui dengan sangat cemas. Perasaanku sangat kacau waktu itu. Hingga ketika hp ku berbunyi dan itu dari polisi yang memberi kabar bahwa suamiku tabrakan tunggal dijalan menuju rumah dan sekarang suamiku sedang dirumah sakit. Aku yang sangat shok tak bisa berbuat apa apa. Aku dibawa kerumah sakit oleh ibu dan mertuaku. Semua orang terlihat cemas dan aku hanya bisa menangis tak berhenti. Ibu dan mertua hanya bisa menenangkanku. Dan ketika dokter keluar dari ruang operasi dan mengatakan bahwa suamiku kini telah tiada seketika itu pun aku jatuh pingsan. Bangun bangun ku lihat suamiku telah terbujur kaku dengan kain kapan diseluruh tubuhnya akupun kembali pingsan.
Kemudian aku sadar dan mendapati keadaan bahwa suamiku tercinta kini telah tiada. Setelah selesai pemakaman seluruh keluarga berusaha menghiburku. Dan semua keluarga terdekat sepakat untuk tinggal beberapa hari agar aku tak merasa kesepian. Tapi bagiamanapun mereka menghiburku aku tetap merasa hampa. Hari demi hari berlalu dan keluarga pun satu per satu untuk pulang karena mereka juga punya kehidupan. Hingga tinggal aku sendiri dirumah ini. Kulihat perutku dan kurasakan emosi yang begitu dalam. Aku berpikir bahwa gara gara anak yang berada dalam perutku suamiku tiada. Gara gara ingin memenuhi ngidamku suami yang aku sayangi kini pergi selamanya. Aku menyesal mengandung anak ini. Jika bisa memilih aku ingin anak ini saja yang mati. Dan niat untuk menggugurkan kandunganku pun timbul. Aku pun mencoba menggugurkan anak ini dengan segala cara. Akan tetapi niat jahat ku ini diketahui ibu dan mertua ku dan selalu mereka gagalkan.
Perutku pun semakin membesar. Kini kandunganku sudah waktunya untuk melahirkan anak yang sangat aku benci dan tak kuinginkan. Hingga suatu Pagi januari yang mendung anak ku pun lahir kedunia. Suara tangisannya kudengar dan semakin benci pula akumendengarnya. Karena semakin aku melihat dan mendengar anak ku rasa penyesalanku pun timbul. Dan karena usaha ku yang selalu berusaha membunuhnya dari dalam kandungan mengakibatkan anakku buta permanen. Kenyataan ini membuatku semakin membenci dia. Aku pun hanya memberi ASI selama 3 bulan dan sejak usianya 3bulan tersebut kusuruh ibu dan mertua ku yang mengasuh dan membesarkannnya.
Akupun memulai hidup yang baru. Mencoba melupakan semaunya termasuk anak yang baru saja aku lahirkan. Aku menyibukkan diri dengan berbisnis dan kegiatan sosial. Bisnis ku pun maju dengan pesat dan membuat ku semakin sibuk dan sedetikpun aku tak mengingat anakku. Sepuluh tahun berlalu , usaha ku semakin maju. Tak lupa aku mentranfer uang ke ibu dan mertuaku untuk biaya anak ku. Sepuluh tahun juga aku tak bertemu dengan Umar. Bahkan nama umar pun diberikan oleh mertua ku sendiri.
Suatu hari aku berkunjung ke panti asuhan yang aku kelola dengan teman temanku. Disana aku baru tahu bahwa banyak sekali anak yang terlantar. Anak yang di buang oleh ibunya. Dan rata rata anak yang di buang itu baru berumur sebulan dua bulan. Dan aku sangat tersentuh mendengar cerita ibu penjaga panti yang menceritakan ada seorang anak yang dibuang ibunya yang bayinya masih merah dan tali pusarnya juga masih menempel.
Aku tak kuasa lagi menahan airmata ini. Ibu macam apa aku ini yang meninggalkan anakku begitu saja. Bahkan aku tak dapat membayangkan bagaimana sekarang rupanya. Akupun menangis sejadi jadinya mengingat apa yang telah aku berbuat kepada anakku. Seketika itu pula ku pacu mobil ku pergi kerumah ibu dan dan mertuaku untuk menemui umar. Sepanjang jalan aku hanya bisa menangis dan menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.
Setibanya aku dirumah kulihat seorang aak sedang duduk didapn rumah sambil memegang quran ditangannya. Dia yang menyadari kedatangan ku lalu memanggilku “ BUNDA” . kata yang baru pertama kali aku dengar selama 10 tahun ini. Dia berlari memelukku dan aku pun tak kuasa menahan tangis. Aku memeluk nya erat, rasa benci yang begitu besar tiba tiba runtuh begitu saja ketika memeluk anak ku darah dagingku. Umar kemudian menghapus air mataku dan membawaku masuk kedalam rumah. Umar membawaku kesebuah ruangan yang penuh dengan lukisan. Dan betapa terkejutnya aku melihat lukisan yang banyak dalam kamar itu adalah wajah ku dengan segala ekprisi dan ekpresi tertawa , sedih , gembira dan lain lain. Aku kembali memeluk aak ku ini. Dari mana dia bisa begitu detail melukis rupaku sedangkan matanya saja buta sejak kecil. Kemudian ibu ku bercerita bahwa itu semua didapatnya hanya lewat mimpi. Saat malam dia bermimpi berjumpa dengan ku siang nya dia lalu melukis wajahku. Dan itu berkat doanya sepanjang malam. Dia berdoa agar allah menemukannya dengan ku walau lewat mimpi. Dan setiap kali rasa rindunya kepadaku muncul dia selalu membaca quran yang selalu dibawanya. Aku yang tak bisa lagi berkata kata hanya bisa menangis. Tak ada rasa benci sedikitpun padaku. Dan semenjak saat itu aku berjanji akan mengganti waktu selama 10 tahun tersebut dengan penuh rasa cinta yang tak pernah ia dapatkan dari siapapun.





No comments for "Rintik di musim Hujan"
Post a Comment