Serenade
Di pojok cafe kota pontianak aku duduk sendiri. Pesanan juga belum datang. Hanya segelas es teh yang berembun karena terlalu lama diluar. Sambil mengaduk air gula yang belum larut. Ingatan ku lurus menerawang kejadian lama sudah sangat lama.
Waktu itu sekitar 10 tahun yang lalu. Saat itu tak seperti sekarang. Aku pada 10 tahun yang lalu hanya remaja biasa yang belum punya harta. Saat itu pertama kali ku ajak pacar pertama ku untuk jalan pertama kali sejak aku tembak. Sebut saja namanya Ratih. Ratih adalah pacar pertamaku. Anak baik. Cerdas tapi sangat malas. Malas untuk belajar. Kira kira kelas 3 SMA pada waktu itu. Ku beranikan diri untuk mentraktirnya se porsi pecel lele di simpang jalan dekat sekolah ku. Dia yang tau modal ku tak banyak waktu itu menawarkan makan se porsi berdua. Baik sekali gadis ini.
Itulah gadis ku. Sangat baik. Benar benar sangat pengertian. Padahal dengan parasnya waktu itu banyak lelaki kaya yang bisa dia kencani. Tapi dia lebih memilih aku dan motor bebek pemberian ayah.
Aku dan ratih kenal sejak lama. Sejak SMP dan berlanjut di SMA.
Waktu itu hujan sore sangat deras. Aku yang lagi gabut mengirim sms ke Ratih. "Cepat juga dia balas" gumam ku pelan. Karena aku dan Ratih kenal sejak lama. Jarak kami hampir tiada celah. Saling terbuka dan apa adanya. Dan ku tahu waktu itu dia baru saja putus dari pacarnya. Irkham.
"Jangan sedih, sama ku saja. Aku selalu menyayangimu sejak dulu. " ketik ku di layar hape. Lalu kemudian aku hapus. Dan ku ganti dengan kalimat
"Hahaha... Mampos jomblo" lalu ku kirim. Entah dorongan apa aku menulis kalimat yang pertama itu.
5 menit...
10 menit...
30 menit...
Sejam kemudian tetap tak ada balasan. Aku yang sedari tadi menunggu balasan. Entah apa yang aku tunggu. Dan kenapa pula aku harus marah. Bukannya aku bukan siapa siapa. Aku pun beranjak. Ku tinggalkan hape di atas kursi. Selangkah aku berjalan. Hape ku berbunyi tanda SMS masuk. Ku buka nokia 2600c ku. Isinya
" Beli 6 GRATIS 6 Donut dari DUNKIN DONUTS MEGA MALL PONTIANAK. Tukarkan SMS ini segera.Hanya berlaku untuk hari ini. Selama persediaan masih ada.Promo *606#"
"BANGSAT !!!! " teriakku di derasnya hujan.
Sekitar pukul 7 malam. Hape berdering kembali. Namun aku abaikan. Palingan SMS dari operator.
Waktu aku hendak menonton ovj. Hape kembali bersering khas ringtone poliponik Nokia. Ku angkat tanpa melihat siaoa yang menelpon.
"BALAS SMS KU BANGSAT!!!!!" aku terperanjat dari berbaring langsung duduk. Aku kaget. Aku kira malaikat maut. Ku atur kesadaran dan melihat layar hape. Ternyata mak lampir. RATIH !!!
Kemudian tanpa firasat lain. Ku baca sms dari atas yang penuh dengan CURHAT. Dan berhenti di kalimat.
" Aku bosan mau cari cowok, aku mau kamu aja jadi pacar ku".
Aku kehilangan akal.
Langsung saja ku jawab.
" Oke aku mau"
Sejak kejadian itu kami jadian. Hari demi hari hari kami lalui seperti berteman pada umumnya. Hanya saja perhatian kami ke pasangan menjadi lebih.
Seperti sore selepas aku dan dia makan sepiring pecel lele. Kita pulang dengan motor bebek ku.
"Nih jaket ku , pakai. Hari mau hujan"
"Iya" jawabnya tersenyum.
Sepanjang jalan pulang kerumah. Waktu terasa cepat berdetak.
" Aku ingin sama kamu terus, sampai pecel lele tadi berubah jadi tai, lalu tainya jadi pupuk. Terus pupuknya bisa ngidupin pohon selama ratusan tahun" katanya mulai erat memelukku
" Kalau setelah ratusan tahun pohon itu ditebang , gimana ?" Tanyaku
" pohon itu ditebang lalu dijadikan rumah kita . I love you" sambil menyandarkan pipinya di pundakku.
Kisah kami berlanjut. Sampai lulus kuliah.
Karena aku tidak terlalu pintar. Dan ekonomi juga sulit. Aku tidak melanjutkan ke dunia perkuliahan walaupun aku punya niat belajar yang tinggi. Aku mencari pengalaman kerja menjadi OB di perusahaan. Sedangkan Ratih dipaksa orang tuannya untuk kuliah keperawatan. Walaupun aku tahu di pasti sangat malas untuk belajar.
Setiap minggu ku sempatkan waktu untuk bertemu. Walau susah mengatur jadwal karena dia di kota berbeda. Kami jalani ini sampai setahun berlalu.
Sampai pada suatu ketika.
"Aku mulai malas belajar. Aku ingin kerja saja seperti mu. " Kata Ratih sambil melihat lihat hape ku.
"Bagaimana orang tua mu?"
"Dari pada aku asal asalan kuliah?"
"Benar juga ya. Terserah kamu. Sini hape ku. Jangan kau cek terus. Nanti hape ku malu. Kamu liatin terus.. dan aku cemburu !"
" Tapi aku baru dapat beasiswa full sampai selesai dapat uang saku. Bagaimana ?" Balik bertanya.
"Itu terserah kamu. Laki laki memang harus punya ilmu yang banyak. Percuma uang banyak tapi ilmu sempit. Kejar cita cita mu itu. Perempuan seperti ku tak perlu pendidikan tinggi. Tugas ku kelak hanya dirumah bermain bersama anak anak ku. " Jawabnya sambil menatapku serius.
Ku letakkan jari telunjukku di keningnya. Dan sedikit ku dorong.
" Anak cerdas !"
Kami pun seperti bertukar nasib. Aku disibukkan dengan kuliah. Sedangkan dia sibuk dengan jabatan baru sebagai customer service di salah satu perusahaan.
Tahun demi Tahun kami lewati dengan biasa. Dan rasa sayangku kepadanya semakin besar.
Hingga pada suatu masa. Di menjadi lebih agak berubah menurutku. Dia jadi lebih curiga. Dia lebih menjadi cemburu. Sekarang dia suka marah marah tanpa kejelasan dan minta kita putus. Setiap bertemu dia selalu mengecek hp sampai ke history pencairan. Dia yang awalnya teramat menyenangkan semenjak kerja disinu menjadi sangat menyebalkan. Setiap ku jemput dia sepulang kerja. Dia ingin aku memakai helm full face. Seperti tak ingin orang lain tau aku ini pacarnya.
" Siapa lelaki yang tadi mengantarmu depan pintu ? " Tanya ku
Dia diam sambil erat memelukku di atas motor.
Tidak ku lanjutkan. Kami saling diam di perjalanan.
Semenjak hari itu. Ratih mulai susah di ajak ketemu. Tak ada lagi ucapan "selamat pagi" dari nya. Tak ada lagi ucapan "selamat makan siang" Dan saat aku sms di jam kerja tak pernah lagi di balas sampai dirumah baru dia balas. Katanya dia sibuk akhir akhir ini. Aku pun mencoba mengerti. Dia tak mau lagi di jemput saat weekend. Alasannya dia lembur sampai malam. Nanti bisa di jemput adiknya.
Perubahan Ratih ini aneh menurutku. Ada hal yang aku curigai. Tanpa sepengetahuannya dan berencana memberi kejutan. Aku sengaja tidak kuliah sore untuk pergi menjemputnya. Saat tepat di depan kantor. Ku lihat Ratih naik motor dengan lelaki yang kemarin aku temui saat menjemputnya. Aku tak berusaha memanggilnya. Aku ikuti saja mereka dari belakang. Ku lihat mereka berpelukan. Hati ku panas. Sangat panas. Sampai di depan rumah ratih. Aku berhenti agak jauh dari mereka. Dan ku lihat Ratih mencium tangan lelaki itu. Dadaku sesak terasa seperti ditusuk. Aku mencoba tenang. Tapi jantungku berdegup sangat kencang. Saat lelaki sudah jauh. Aku pura pura berpapasam dengan Ratih yang hendak menyebrang.
"Pulang pake apa ?"
" Pake bis " jawabnya
"Ayo mampir" katanya gugup menyembunyikan sesuatu.
"Terimakasih, aku duluan. Salam sama bapak dan ibu" kata ku tersenyum
"Tih, sadarlah " kata ku tersenyum dan menarik gas motor.
Sampai dirumah. Ku matikan hape. Aku marah semarah marahnya. Aku hanya bisa memikul rasa itu sendiri.
Mendekati tengah malam ku hidupkan kembali hape. Dan 124 sms dan 60 panggilan tak terjawab semua dari RATIH.
Di sms itu dia menjelaskan panjang lebar kisah kasihnya dengan lelaki itu. Ku ketahui lelaki itu bernama Galang. Anak pejabat yang kebetulan kerja disitu. Dia di kenalkan sama TEMAN TEMAN kerjanya. dan Ratih mulai sayang dengan Galang. Dia bingung dengan persaannya tetapi juga tak ingin menyakiti ku.
"DEG" Aku pun terdiam dan ku matikan hape. Aku sangat emosi waktu itu. Sampai tak tau aku tidur.
Ku diamkan ratih selama 3 hari. Dan berusaha mencari kebenaran yang terjadi. Untungnya di perusaahan Ratih bekerja aku kenal salah seorang teman ku dulu yang juga menjadi OB. Dari ceritanya ku tahu. Ratih awalnya sangat cuek dengan Galang. Tapi teman teman di sekitar nya terus mengompori Ratih untuk menjauhi ku.
Kata mereka
"untuk apa menunggu lelaki yang belum jelas masa depannya. Bahkan kalau makan kebanyakan kamu yang bayar "
Pendapat itu juga di benarkan BOS Ratih. Kata bos Ratih,
" anak kuliahan sangat tidak jelas masa depannya hidup mu sangat terpuruk nanti."
Aku kenal dekat teman ku ini. Aku yakin dia tak berbohong.
Lalu kemudian ada Telpon dari Ratih. Hati ku senang bukan kepalang. Aku rindu. Aku ingin dia "PULANG". TAPI.....
"Kita udahan. Kamu jangan temui aku"
Sambungan di matikan.
Aku turuti permintaannya.
Dan sampai sekarang. Sampai ku lalui Tahun demi Tahun ini. Tak pernah lagi ku temui Ratih. Dan tidak ingin tahu apa kabarnya.
Waktu itu sekitar 10 tahun yang lalu. Saat itu tak seperti sekarang. Aku pada 10 tahun yang lalu hanya remaja biasa yang belum punya harta. Saat itu pertama kali ku ajak pacar pertama ku untuk jalan pertama kali sejak aku tembak. Sebut saja namanya Ratih. Ratih adalah pacar pertamaku. Anak baik. Cerdas tapi sangat malas. Malas untuk belajar. Kira kira kelas 3 SMA pada waktu itu. Ku beranikan diri untuk mentraktirnya se porsi pecel lele di simpang jalan dekat sekolah ku. Dia yang tau modal ku tak banyak waktu itu menawarkan makan se porsi berdua. Baik sekali gadis ini.
Itulah gadis ku. Sangat baik. Benar benar sangat pengertian. Padahal dengan parasnya waktu itu banyak lelaki kaya yang bisa dia kencani. Tapi dia lebih memilih aku dan motor bebek pemberian ayah.
Aku dan ratih kenal sejak lama. Sejak SMP dan berlanjut di SMA.
Waktu itu hujan sore sangat deras. Aku yang lagi gabut mengirim sms ke Ratih. "Cepat juga dia balas" gumam ku pelan. Karena aku dan Ratih kenal sejak lama. Jarak kami hampir tiada celah. Saling terbuka dan apa adanya. Dan ku tahu waktu itu dia baru saja putus dari pacarnya. Irkham.
"Jangan sedih, sama ku saja. Aku selalu menyayangimu sejak dulu. " ketik ku di layar hape. Lalu kemudian aku hapus. Dan ku ganti dengan kalimat
"Hahaha... Mampos jomblo" lalu ku kirim. Entah dorongan apa aku menulis kalimat yang pertama itu.
5 menit...
10 menit...
30 menit...
Sejam kemudian tetap tak ada balasan. Aku yang sedari tadi menunggu balasan. Entah apa yang aku tunggu. Dan kenapa pula aku harus marah. Bukannya aku bukan siapa siapa. Aku pun beranjak. Ku tinggalkan hape di atas kursi. Selangkah aku berjalan. Hape ku berbunyi tanda SMS masuk. Ku buka nokia 2600c ku. Isinya
" Beli 6 GRATIS 6 Donut dari DUNKIN DONUTS MEGA MALL PONTIANAK. Tukarkan SMS ini segera.Hanya berlaku untuk hari ini. Selama persediaan masih ada.Promo *606#"
"BANGSAT !!!! " teriakku di derasnya hujan.
Sekitar pukul 7 malam. Hape berdering kembali. Namun aku abaikan. Palingan SMS dari operator.
Waktu aku hendak menonton ovj. Hape kembali bersering khas ringtone poliponik Nokia. Ku angkat tanpa melihat siaoa yang menelpon.
"BALAS SMS KU BANGSAT!!!!!" aku terperanjat dari berbaring langsung duduk. Aku kaget. Aku kira malaikat maut. Ku atur kesadaran dan melihat layar hape. Ternyata mak lampir. RATIH !!!
Kemudian tanpa firasat lain. Ku baca sms dari atas yang penuh dengan CURHAT. Dan berhenti di kalimat.
" Aku bosan mau cari cowok, aku mau kamu aja jadi pacar ku".
Aku kehilangan akal.
Langsung saja ku jawab.
" Oke aku mau"
Sejak kejadian itu kami jadian. Hari demi hari hari kami lalui seperti berteman pada umumnya. Hanya saja perhatian kami ke pasangan menjadi lebih.
Seperti sore selepas aku dan dia makan sepiring pecel lele. Kita pulang dengan motor bebek ku.
"Nih jaket ku , pakai. Hari mau hujan"
"Iya" jawabnya tersenyum.
Sepanjang jalan pulang kerumah. Waktu terasa cepat berdetak.
" Aku ingin sama kamu terus, sampai pecel lele tadi berubah jadi tai, lalu tainya jadi pupuk. Terus pupuknya bisa ngidupin pohon selama ratusan tahun" katanya mulai erat memelukku
" Kalau setelah ratusan tahun pohon itu ditebang , gimana ?" Tanyaku
" pohon itu ditebang lalu dijadikan rumah kita . I love you" sambil menyandarkan pipinya di pundakku.
Kisah kami berlanjut. Sampai lulus kuliah.
Karena aku tidak terlalu pintar. Dan ekonomi juga sulit. Aku tidak melanjutkan ke dunia perkuliahan walaupun aku punya niat belajar yang tinggi. Aku mencari pengalaman kerja menjadi OB di perusahaan. Sedangkan Ratih dipaksa orang tuannya untuk kuliah keperawatan. Walaupun aku tahu di pasti sangat malas untuk belajar.
Setiap minggu ku sempatkan waktu untuk bertemu. Walau susah mengatur jadwal karena dia di kota berbeda. Kami jalani ini sampai setahun berlalu.
Sampai pada suatu ketika.
"Aku mulai malas belajar. Aku ingin kerja saja seperti mu. " Kata Ratih sambil melihat lihat hape ku.
"Bagaimana orang tua mu?"
"Dari pada aku asal asalan kuliah?"
"Benar juga ya. Terserah kamu. Sini hape ku. Jangan kau cek terus. Nanti hape ku malu. Kamu liatin terus.. dan aku cemburu !"
" Tapi aku baru dapat beasiswa full sampai selesai dapat uang saku. Bagaimana ?" Balik bertanya.
"Itu terserah kamu. Laki laki memang harus punya ilmu yang banyak. Percuma uang banyak tapi ilmu sempit. Kejar cita cita mu itu. Perempuan seperti ku tak perlu pendidikan tinggi. Tugas ku kelak hanya dirumah bermain bersama anak anak ku. " Jawabnya sambil menatapku serius.
Ku letakkan jari telunjukku di keningnya. Dan sedikit ku dorong.
" Anak cerdas !"
Kami pun seperti bertukar nasib. Aku disibukkan dengan kuliah. Sedangkan dia sibuk dengan jabatan baru sebagai customer service di salah satu perusahaan.
Tahun demi Tahun kami lewati dengan biasa. Dan rasa sayangku kepadanya semakin besar.
Hingga pada suatu masa. Di menjadi lebih agak berubah menurutku. Dia jadi lebih curiga. Dia lebih menjadi cemburu. Sekarang dia suka marah marah tanpa kejelasan dan minta kita putus. Setiap bertemu dia selalu mengecek hp sampai ke history pencairan. Dia yang awalnya teramat menyenangkan semenjak kerja disinu menjadi sangat menyebalkan. Setiap ku jemput dia sepulang kerja. Dia ingin aku memakai helm full face. Seperti tak ingin orang lain tau aku ini pacarnya.
" Siapa lelaki yang tadi mengantarmu depan pintu ? " Tanya ku
Dia diam sambil erat memelukku di atas motor.
Tidak ku lanjutkan. Kami saling diam di perjalanan.
Semenjak hari itu. Ratih mulai susah di ajak ketemu. Tak ada lagi ucapan "selamat pagi" dari nya. Tak ada lagi ucapan "selamat makan siang" Dan saat aku sms di jam kerja tak pernah lagi di balas sampai dirumah baru dia balas. Katanya dia sibuk akhir akhir ini. Aku pun mencoba mengerti. Dia tak mau lagi di jemput saat weekend. Alasannya dia lembur sampai malam. Nanti bisa di jemput adiknya.
Perubahan Ratih ini aneh menurutku. Ada hal yang aku curigai. Tanpa sepengetahuannya dan berencana memberi kejutan. Aku sengaja tidak kuliah sore untuk pergi menjemputnya. Saat tepat di depan kantor. Ku lihat Ratih naik motor dengan lelaki yang kemarin aku temui saat menjemputnya. Aku tak berusaha memanggilnya. Aku ikuti saja mereka dari belakang. Ku lihat mereka berpelukan. Hati ku panas. Sangat panas. Sampai di depan rumah ratih. Aku berhenti agak jauh dari mereka. Dan ku lihat Ratih mencium tangan lelaki itu. Dadaku sesak terasa seperti ditusuk. Aku mencoba tenang. Tapi jantungku berdegup sangat kencang. Saat lelaki sudah jauh. Aku pura pura berpapasam dengan Ratih yang hendak menyebrang.
"Pulang pake apa ?"
" Pake bis " jawabnya
"Ayo mampir" katanya gugup menyembunyikan sesuatu.
"Terimakasih, aku duluan. Salam sama bapak dan ibu" kata ku tersenyum
"Tih, sadarlah " kata ku tersenyum dan menarik gas motor.
Sampai dirumah. Ku matikan hape. Aku marah semarah marahnya. Aku hanya bisa memikul rasa itu sendiri.
Mendekati tengah malam ku hidupkan kembali hape. Dan 124 sms dan 60 panggilan tak terjawab semua dari RATIH.
Di sms itu dia menjelaskan panjang lebar kisah kasihnya dengan lelaki itu. Ku ketahui lelaki itu bernama Galang. Anak pejabat yang kebetulan kerja disitu. Dia di kenalkan sama TEMAN TEMAN kerjanya. dan Ratih mulai sayang dengan Galang. Dia bingung dengan persaannya tetapi juga tak ingin menyakiti ku.
"DEG" Aku pun terdiam dan ku matikan hape. Aku sangat emosi waktu itu. Sampai tak tau aku tidur.
Ku diamkan ratih selama 3 hari. Dan berusaha mencari kebenaran yang terjadi. Untungnya di perusaahan Ratih bekerja aku kenal salah seorang teman ku dulu yang juga menjadi OB. Dari ceritanya ku tahu. Ratih awalnya sangat cuek dengan Galang. Tapi teman teman di sekitar nya terus mengompori Ratih untuk menjauhi ku.
Kata mereka
"untuk apa menunggu lelaki yang belum jelas masa depannya. Bahkan kalau makan kebanyakan kamu yang bayar "
Pendapat itu juga di benarkan BOS Ratih. Kata bos Ratih,
" anak kuliahan sangat tidak jelas masa depannya hidup mu sangat terpuruk nanti."
Aku kenal dekat teman ku ini. Aku yakin dia tak berbohong.
Lalu kemudian ada Telpon dari Ratih. Hati ku senang bukan kepalang. Aku rindu. Aku ingin dia "PULANG". TAPI.....
"Kita udahan. Kamu jangan temui aku"
Sambungan di matikan.
Aku turuti permintaannya.
Dan sampai sekarang. Sampai ku lalui Tahun demi Tahun ini. Tak pernah lagi ku temui Ratih. Dan tidak ingin tahu apa kabarnya.





No comments for "Serenade"
Post a Comment